Jumat, 10 Februari 2012

ASUHAN KEPERAWATAN TERAPI WICARA


ASUHAN KEPERAWATAN
Sebelum memberikan terapi wicara pada pasien, penting dalam melakukan pengkajian
dan menentukan jenis/macam gangguan wicara. Dalam proses pengkajian ini peran
perawat sangatlah penting, walaupun dalam pelaksanaan terapi wicara merupakan
tindakan kolaborasi, perawat tetap dituntut dapat melakukan pengkajian yang tepat, cepat
dan cermat sehingga dapat didentifikasi jenis gangguan wicara dengan tepat.
(http://www.holistic-online.com/Remedies/Heart/stroke_conv_rehab.htm,)
Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan sebelum, selama dan sesudah dilakukan terapi wicara,
meliputi:

1. Prinsip-prinsip dalam pengkajian:
- Gunakan istilah yang sederhana dalam intruksi
- Petunjuk sederhanan secara tertulis dan lisan
- Gunakan kalimat dengan jawaban ya/tidak/geleng kepala/ngangguk
- Pengkajian dapat diperoleh dengan cara mendengarkan & mengobservasi pasien
secara lagsung
- Bila perlu kolaborasi langsung dengan speech terapi
2. Pengkajian umum:
- Riwayat penyakit, latar belakang bahasa, eknis, pendidikan,minat Termasuk
pengkajian tingkah laku, kebingungan pasien dan kehilangkan daya ingat perlu
dikaji
3
- Kaji dengan komprehensif dengan dilakukan oleh satu tim dibawah pinpinan
speech terapi
- Termasuk masalah penglihatan, pendengaran selain kemampuan berbicara
3. Pengkajian khusus, yang bertujuan untuk menentukan jenis/bentuk gangguan wicara
dengan pasti
(http://www.cigna.com/health/provider/medical/procedural/coverage_positions/medical/mm_0177_cov
eragepositioncriteria_speech_therapy.pdf,)
- Kemampuan berbicara
- Dapat dilakukan pembicaraan spontan dan menjadi tanggung jawab perawat
dalam memcatat kemampuan dan ketidakmampuan pasien dalam berkomunikasi
dengan pasien
- Pengkajian kemampuan pasien untuk mengerti bahasa tulisan
- Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan gangguan syaraf
4. Pengkajian penunjang:
- Test menentukan kemampuan berbahasa tertentu yang telah hilang.
- Communication Abolition Record (CAR) menurut Bartz dan Norman: Behavior,
Comprehension dan expression, penilaian normal dan abnormal diberikan setelah
pengumpulan data
Pada hasil pengkajian ini perawat dapat membuat diagnosa perawatan tentang gangguan
komunikasi dengan tipe dan derajat ganggguannya. An dengan kolaborasi dengan speech
terapi, perawat dapat membuat tujuan dan intervensi keperawatan yang sesuai masalah.
Diagnosa Keperawatan
Masalah – masalah yang dapat muncul pada pasien dengan gangguan wicara,
diantaranya:
1. Komunikasi, kerusakan, verbal, berhubungan dengan: Defisit anatomi (pengangkatan
batang suara), Hambatan fisik (selang trakeostomi atau lainnya), Membutuhkan
istirahat bersuara. Kemungkinan dibuktikan dengan: Ketidakmampuan berbicara,
Perubahan pada karakteristik suara
2. Resiko kecemasan b.d ketidakmampuan dalam berkomunikasi
4
Intervensi keperawatan
Tujuan : untuk dapat merangsang komunikasi tanpa tekanan yang menimbulkan frustasi
dan berangsur-angsur membinbing pasien untuk memberikan respon dan permohonan
(hal ini dapat dicapai beberapa minggu – bulan).
Prinsip:
1. Hindari bicara seolah-olah pasien menderita cacat mental, jangan berteriak pada
pasien, bicara jelas dan perlahan, beri kesempatan/waktu pasien untu berespon
2. Perhatikan reaksi pasien terhadap masalah bahasa berbeda-beda
3. Hal penting diperhatikan dalam rehabilitasi bicara: Keinginan pasien untuk
berkomunikasi, Usaha yang terus menerus, sikap orang-orang yang berhubungan
dengan pasien
4. Lakukan usaha-usaha untuk mengurangi ketegangan agar pasien dapat membuat
penyesuaian terhadap kehilangannya (Lingkungan, komunikasi seperti hal orang
normal, aktifitas, dll)( www . stroke family.org/ ,)
5. Tentukan cara yang paling efektif untuk berkomunikasi
6. Lakukan tehnik-tehnik untuk menstimulasi komunikasi dan membantu pasien
mengatasi masalah aphasia pasien (Self talk, pararel talk, ekspansion, modeling)
7. berikan intervensi yang khusus berdasarkan pada tipe masalah wicara apakah, aphasia
comprehention atau eksprestion
8. Berikan petunjuk dasar dalam berkomunikasi dengan pasien
9. Kolaborasi dengan speech terapi (Speech patologist) dan dapat dimulai dengan fase
akut, dan program yang diusulkan harus dikomunikasikan kepada sesama profesi
kesehatan , sehingga pasien tidak menjadi bingung.
Prognosa
1. Sedikit pasien memperoleh kembali kemampuan yang normal untuk membaca,
menulis dan bicara
2. Beberapa pasien memperoleh kembali kemampuannya berkomunikasi hampir normal
3. Pencapaian diatas memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun
4. Derajat terbesar untuk kembalinya fungsi berbicara secara spontan ialah pada periode
3 – 6 bulan pertama.
5
5. Umumnya bahasa dimonopoli oleh hemisfer kiri, 99% orang yang righ-handed
mempunyai fungsi bahasa terutama pada hemisfer kiri, untuk orang yang left-handed
baik hemisfer kiri maupun kanan dapat berfungsi yang kompleks. Orang yang lefthanded
setelah menderita kerusakan hemisfer kiri dan kanan, keadaan aphasia
mereka lebih berat daripada yang righ handed, tetapi merekapun dapat memperoleh
kesembuhan yang lebih pesat dan lebih baik dari pada orang yang righ-handed.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar